artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

HUJAN DAN SKEMA PERGESERAN SIFAT HUMANIS




Halo sob ... ketemu lagi kita hehe ...
Kita bahas hujan disni hehe, dan mungkin kali ini nalar kami agak sedikit subyektif, kenapa kami subyektif? karena hal ini TIDAK terjadi kepada semua individu. Tapi kenapa hujan? Ya hujan memang hal biasa dan udah jadi bagian dari siklus alam yang mendukung kehidupan manusia, tapi kadang banyak dari kita menyalahkan hujan karena telah mengganggu hal hal rutin yang HARUS KUDU MUSTI dilakukan. Dan dengan segala waktu luang dan gak ada kerjaan, kami memikirkan hal ini yang akhirnya gak bisa terbendung lagi untuk diungkapkan kedalam sebuah tulisan walau pendek berikut ini. 

HUJAN DAN SKEMA PERGESERAN SIFAT HUMANIS

Ada dua pertanyaan, pertanyaan pertama adalah KENAPA KITA TIDAK MENUNGGU HUJAN REDA UNTUK BERANGKAT KERJA/SEKOLAH?? Ya, Kita tidak bisa menghindari hujan demi mengejar waktu yang sudah ditentukan oleh sang atasan, walaupun hujan itu berpetir dan badai. 

Pertanyaan kedua adalah KENAPA JUSTRU KITA BISA LEBIH BERLAMA LAMA MENUNGGU HUJAN REDA UNTUK PULANG?? Dan ya kita bisa menghindari hujan berjam jam dengan berteduh disatu tempat sampai hujannya reda walaupun kita sadar kalau ada yang menunggu dirumah. 

Diluar alasan takut terlambat, takut dipecat, atau takut kena skorsing, ini jelas bukanlah fenomena, ini adalah pergeseran halus sifat humanis kita yg secara hakekatnya terlahir bebas, menuju sifat yg cenderung robotik dan senang atau rela dengam satu kekangan. Ya, kita menjadi lebih memilih mengikat diri kita pada ketidaknyamanan dalam sebuah diorama perintah dan lebih melalaikan segala daya yang datangnya dari kasih, kerelaan dan rasa ingin terus bersama-sama dalam kehangatan dan kemesraan.

Love is life, life is free ...

ditulis oleh: Adung Prengkihh (make H-nya dua), tukang ojek payung Stasiun Depok Lama.


NBR 029/2016 THE FILTHY GRIND PROJECT, split Gonorrhea Zombie / Tumor Ganas




THE FILTHY GRIND PROJECT

Tracklist:
01 Gonorrhea Zombie - Brain Mucopurulent
02 Gonorrhea Zombie - Penile Inflammatory Discharge
03 Gonorrhea Zombie - Uterus Eater
04 Gonorrhea Zombie - Vagina Luftwaffle (Rompeprop cover)
05 Tumor Ganas - Yang Muda Yang Ceria Mati! (Save Your Youth!)
06 Tumor Ganas - Walah Wawah Weweh Wawah
07 Tumor Ganas - Setan Aku Aku
08 Tumor Ganas - Egaliter Sebatas Wacana

Gonorrhea Zombie:

https://www.facebook.com/gonorrheaZ
https://soundcloud.com/gonorrhea_z

Tumor Ganas:
https://www.facebook.com/tumorganas.grindcore
https://soundcloud.com/tumorganas-grindcore

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Released and publish by:

Digital Audio Surgery Team (xDxAxSxTx)
https://soundcloud.com/noiseblastudio

Support released and publish by:

Arakatee Acehnese Records:
https://www.facebook.com/ARAKATEE.ACEHNESE.RECORDS
Denses Records:
https://www.facebook.com/densekedelai

Grinding Like A Maniacs Records
https://www.facebook.com/xgxlxaxmxrecs

Grindcore Worldwide
https://www.facebook.com/grindcore.worldwide

KandangXapi Records:
https://www.facebook.com/Kandang-Xapi-Records-Distribution-778354165590188

Noisebombsound Download Library:
https://www.facebook.com/noisebombsounds

Noiseblast Media:
https://www.facebook.com/NoiseblastMedia

Pressure Blast Records:
https://www.facebook.com/pressureblastrecs

Sibukota Records:
https://www.facebook.com/SBKTrecord

Thank You For Download, Listen and Share!!
Enjoy!!



Check Sound!



BATTLE IN SEATTLE, The Review


Dari Redaksi:

 Ada kalimat yang paling berkesan ketika Django meredakan emosi Jay waktu mereka bertemu di sel tahanan begini kira-kira "Ayolah bro ... kita tidak sedang berlomba ... kamu ingat seminggu yang lalu orang-orang tidak tahu apa itu WTO ... tapi sekarang mereka tetap tidak tahu sih ... tapi mereka tahu kalau WTO itu buruk ..."

Intinya gini, sebuah perlawanan bukan hanya mencari kemenangan, tapi ini juga merupakan edukasi atau pembelajaran, atau pembenturan yang (mungkin) dapat menyadarkan banyak orang ... Perlawanan adalah teguran keras, ancaman, dan "jam weker" buat ngebangunin mereka yang masih terlelap dan terlena oleh impian-impian gemerlapnya dunia modern ...

Dan berikut gambaran seru dari blog https://pandaiapi.wordpress.com tentang filem ini, cekidot brooo ...

***

“..Jaringan suara yang bukan hanya bicara namun juga berjuang demi kemanusiaan untuk melawan neo-liberalisme. Jaringan lima benua yang turut menangkal kematian yang disuguhkan kekuasaan kepada kita. Jaringan tanpa pusat atau pengambil keputusan, yang tak memiliki komando sentral atau hakiki. Kitalah jaringan itu, kita semua yang melawan…” (Zapatista, Chiapas 1996)

Anarkisme sebagai sebuah keyakinan politik kadung mengalami peyorasi, degradasi makna. Istilah ini kerap diasosiasikan dengan sikap urakan, anti kemapanan, dan terutama doyan kekerasan. Anarkis berarti demonstrasi dengan melempar batu, membakar ban, mengeroyok polisi atau yang sejenisnya. Padahal sebagai sebuah keyakinan politik, anarkisme punya makna yang jauh dari sekedar tindak kekerasan. Bangkitnya kelompok-kelompok otonom sebagai respon atas menguatnya aktor non-negara (baca: korporasi) dalam konstelasi politik dan kekuasaan kontemporer membuka peluang munculnya paradigma baru anarkisme di era globalisasi neo-liberalisme saat ini. Namun lagi-lagi, penyempitan makna yang kadung memandang minor anarkisme membuat ide alternatif ini semakin kehilangan pamor di mata publik.

Padahal “anarkisme baru” yang muncul sejak menguatnya peran korporasi dan logika perdagangan dalam mendikte demokrasi dan kehidupan manusia adalah salah satu keyakinan politik dan metode penggorganisasian massa yang paling potensial meruntuhkan hegemoni kapitalisme yang dimanifestasikan lewat kongsi dagang WTO, World Trade Organization. Persitiwa yang terjadi di Seattle di akhir November 1999 saat ribuan masyarakat sipil melakukan protes selama berlangsungya sidang WTO adalah gambaran bagaimana sebuah “gerakan anarkis” sukses menantang hegemoni kapitalisme (yang dimitoskan tak terkalahkan oleh Fukuyama dalam The End of History-nya). Karenannya Battle In Seattle adalah film yang tepat bagi Anda yang hendak berkenalan dengan perjuangan dan gerakan “anarkisme baru”, perjuangan yang oleh Zapatista (gerilyawan masyarakat adat Chiapas) disebutnya sebagai Resistencia y Rebeldia For La Humanidad, Perlawanan dan Pemberontakan untuk Kemanusiaan.

***


Battel In Seattle adalah film anyar keluaran tahun 2008 yang disutradarai oleh Stuart Townsend. Film ini mengambil setting saat berlangusngnya protes anti kapitalisme/neo-liberalisme pada pertemuan tingkat menteri anggota WTO di Seattle U.S bulan November 1999. Bisa dibilang film ini hibrida antara dokumenter dan fiksi. Setting film merupakan kisah nyata yang benar-benar terjadi, namun semua tokoh dalam film ini cuma rekaan, meski mereka memerankan kelompok-kelompok yang mengambil peran pada peristiwa Seattle yang kesohor itu. Kritikus flm menyebut film ini “not quite a documentary and not quite a drama, but interesting all the same” (Wikipedia). Sebagai film “semi dokumenter” dengan corak politis yang kuat dan tendensi keberpihakan yang kental, rasanya kurang afdol menonton film ini tanpa memahami gerakan anti kapitalisme kontemporer (saya lebih suka menyebutnya gerakan anti ketidakadilan global) yang menjadi “tokoh utama” film protes ini.

Film ini mengisahkan orang-orang yang dengan perannya masing-masing saling terikat satu sama lain dalam reli protes selama lima hari di Seattle. Mereka terdiri dari : tiga orang aktivis penggerak protes dengan latar belakang yang kompleks dan beragam (environmentalist, feminis, anti-debt activist); Dua orang wartawan liputan langsung yang memilih berpihak pada kebenaran dengan resiko pemecatan ; Seorang dokter MSF (Medicine Sans Frontier/Doctor Without Borders) yang menolak komersialisasi layanan kesehatan dan paten obat-obatan melalui jalur legal dalam forum WTO, meski suaranya dianggap angin lalu ; Seorang polisi kota Seattle yang menjaga perhelatan sidang WTO dan istrinya ; Serta Major kota Seattle yang kebingungan menangani protes yang berkembang menjadi “bencana nasional”. Protes selama lima hari itu menghubungkan mereka dalam sebuah “ikatan” dan masing-masing dihadapkan pada pilihan-pilihan yang akan mempengaruhi masa depan dan posisi mereka dalam protes yang telah menjelma menjadi gerakan mundial (global) ini.

Bagi penggiat “parlemen jalanan”, film ini akan sangat familiar bahkan mungkin bisa menjadi refrensi anda saat melakukan protes/demonstrasi . Sejak awal hingga akhir film ini , Anda akan disuguhi beragam kreativitas aksi dan demonstrasi damai a la “neo-anarkisme”. Anda akan melihat bagaimana kelompok-kelompok afinitas yang beragam dalam reli protes ini (buruh, mahasiswa, petani, feminis, aktivis lingkungan dll) mampu mengoganisaskan diri secara rapih dalam sebuah struktur yang nyaris tanpa hierarki birokratis dan komando tersentral. Pengelolaan protes secara anarkis membuat kelompok-kelompok yang berbeda itu mampu bergerak secara kompak ketika melakukan aksi turun ke jalan untuk memblokade jalan menuju area pembukaan sidang WTO tanggal 29 November 1999. Sejak pagi mereka menyebar di beberapa titik dan memblokade jalanan yang akan dilalui delegasi pertemuan dengan rantai manusia. Uniknya,pemblokiran arus lalu lintas tidak menggunakan cara-cara “klasik” misalnya dengan membakar ban atau memancing bentrokan di jalanan. Alih-alih mengunakan idiom klasik revolusi (pistol, molotov, tentara pembebasan dll), mereka menggunakan perangkat-perangkat unik ukuran raksasa yang bermakna satir dan mngundang senyum (misalnya boneka karikatur pemimpin dunia). Spanduk-spanduk dan perangkat agitasi juga dibuat sekreatif mungkin, bahkan kostum peserta aksi sengaja dibuat untuk menyindir polisi yang mengawasi demonstrasi damai dengan pakaian tempur lengkap yang lebih mirip kostum Death Vader dalam film Star Wars. Di film ini misalnya, diperlihatkan bagaimana demonstran menggunakan kostum yang jauh dari kesan “sangar” dan berbahaya, misalnya dengan kostum badut kura-kura atau kostum peri, lengkap dengan “senjata” berupa kemoceng untuk mengelitik polisi yang sudah bersiap siaga dengan peluru karet dan pelontar gas air mata di tangan. Blokade jalan dengan demosntrasi damai ternyata berhasil menunda pembukaan sidang WTO hingga senja. Yang membuat media dan aparat tecengang adalah fakta bahwa dibalik aksi yang sanngat rapi dan massif ini tak kelompok atau pemimpin tunggal satu pun yang berperan sebagai “aktor utama”.

Reli protes selama lima hari di Seattle yang menjadi inti cerita film ini memang peristiwa bersejarah. Demonstrasi 29 November 1999 adalah awal dari demonstrasi serupa yang digelar di berbagai belahan bumi pada tahun-tahun berikutnya: Cancun, Genoa, Hongkong dll. Masyarakat sipil di seluruh penjuru dunia meyadari bahaya buasnya kapitalisme serta menguatnya peran korporasi sebagai aktor non-negara dapat mendikte demokrasi dan kebebasan, karenannya setiap ada perhelatan lembaga-lembaga penyokong globalisasi kapitalisme: World Bank, International Monetary Fund dan Word Trade Organization, dapat dipastikan akan berlangsung demonstrasi-demonstrasi besar. Tiga lembaga yang diberi julukan sebagai Unholy Trinity (Trinitas tak suci) itu memang gencar mempromosikan perdagangan bebas abosolut dengan menafikan dampak sosial dan ekologis yang mungkin timbul. Atas nama perdagangan dan akumulasi kapital mereka gencar mempromosikan penghapusan pembatasan tarif antar negara dalam perdagangan bebas dan melarang negara anggota melakukan proteksi dan subsidi, padahal dua kebijakan ini dibutuhkan oleh negara berkambang untuk melindungi industri dalam negeri yang sedang berkembang. Logika dagang juga digunakan dalam melihat kebutuhan dasar yang berujung pada komersialisasi layanan dasar. WTO lewat lebijakan GATS (General Agreement on Trade in Services) telah membuka peluang dikomersilkannya layanan pendidikan dan kesehatan. Lewat kebijakan Hak Kekayaan Intelektual (TRIP’s), WTO juga telah menghilangkan akses penduduk miskin di negara berkembang untuk mendapatkan obat-obatan murah berkualitas karena hak paten obat yang terlampau mahal untuk dibeli oleh negara berkembang.


Rupanya tak cuma gerakan protes yang terus menjjalar pasca peristiwa Seattle. Gerakan masyarakat sipil yang menentang ketidakadilan global ini rupanya mulai mengorganisir diri (tentunya dengan prinsip anarkis) sehingga koordinasi antara elemen afinitas semkain rapi. Mereka bahkan membentuk WSF (World Social Forum), selain sebagai satir bagi WEF (Word Economic Forum) yang beranggotakan negara-negara paling maju ekonominya di kolong jagat, WSF juga didirikan sebagai wadah untuk penguatan jaringan perlawanan dan protes antar benua serta pembentukan wacana alternatif/tandingan atas mitos globalisasi-kapitalisme. Karennya tak dapat dipungkiri, peristiwa lima hari di Seattle pada tahun 1999 adalah momen kebangkitan kembali bangkitnya people power yang akarnya dapat ditelusuri kembali pada gerakan-gerakan anti perang 30 tahun silam. Peristiwa Seattle mengejutkan aparat, politisi, pemilik korporasi hingga media massa. Dari mana datangnya ribuan demonstran yang tumpah ruah memblokade jalan? Ke partai atau kelompok manakah mereka tergabung? Penggorganisasi massa secara anarkis yang menghasilkan sruktur non-hierarkis rupanya berhasil membuat orang-orang dibelakang meja itu terhenyak bahwa masyarakat masih punya kekuatan.

Peristiwa Seattle juga layak dikenang, sebab selain capaian keberhasilan gerakan yang diorganisir secara anarkis, pada peristiwa ini pula terjadi distorsi makna anarkisme dan gerakan anti ketidakadilan global secara keseluruhan. Sebagaimana digambarkan dalam Battle of Seattle, protes lima hari ini rupanya diikuti juga oleh faksi yang lebih memilih melakukan kekerasan dalam setiap aksinya. Meski jumlah mereka relatif kecil, namun media massa gencar mencitrakan protes lima hari itu sebagai sebuah protes yang penuh dengan pengrusakan, penjarahan, dan chaos. Apalagi ketika Black Bloc, sebuah faksi anarkis yang terkenal dengan pakaian khas berupa jaket hitam dan masker, melakukan perusakan terhadap icon kapiltasime semisal Starbucks dan McDonald’s. Protes lima hari di Seattle sejatinya merupakan protes damai tanpa kekerasan. Kalaupun ada kelompok yang melakukan kekerasan, jumlah mereka relatif kecil dibandingkan dengan ribuan demonstran damai lainnya. Kekerasan yang kemudian terjadi-pun lebih banyak yang dipicu oleh kekerasan polisi dalam penanganan demonstrasi. Gencarnya pemberitaan media terkait tindak kekerasan ini tak pelak membuat protes lima hari ini mendapat sorotan tajam. Berkat pencitraan negatif ini pula gerakan anarkis dan anarkisme mengalami distorsi dan degaradis makna. Istilan anti-globalisasi pun mulai disematkan pada demostran anti-WTO, sebuah istilah yang sangat tidak depat dan cenderung mencitrakan demonstran sebagai kelompok masyarakat yang anti kemajuan (karenanya saya lebih senang menggunakan istilah gerakan anti ketidakadilan global tinimbang anti gobalsiasi).

Semua dinamika protes lima hari ini dapat Anda saksikan dalam film Battle in Seattle karya Stuart Townsend ini. Meski tidak mengulas latar belakang lahirnya gerakan-gerakan anti kapitalisme secara mendalam, namun cukup menarik bagi Anda yang ingin berkenalan dengan gerakan “anti globalisasi” yang meng-global ini. Jika Anda tertaik, saya bersedia meminjamkannya. Gratis, tak perlu biaya rental. Asalkan setelah nonton kita buat diskusi soal film ini… hehe…tertarik???Segera contact saya ya…

Salam, Tabik, dan Viva Altermundialista….

Oya, simak juga anthem anti-WTO yang dinyanyikan pada protes lima hari ini

Sold Down the River
A song by Jack Chernos

The President signed the GATT treaty into law
Fast-tracked through Congress with only hours of debate
We’ve ceded our authority in the blink of an eye
To a group of corporations that have purchased the right

They call it ’free’ trade, I’ll tell you what that means
You can have your unions here, but the factory is overseas
Putting poisons in the water and paying pennies

We’re being sold down the river to the WTO
Sold down the river, sold down the river
Sold down the river to the WTO!

They’re meeting in Seattle to plan the next century
And we need to be there in the streets
When the size of corporations exceeds the finances of nations
The democratic process can not compete

They call it ’free’ trade, and I’ll tell you what that means
Your health and safety laws, democratically made
Can be challenged from abroad as barriers to foreign trade

We’re being sold down the river to the WTO
Sold down the river, sold down the river
Sold down the river to the WTO!

Battle In Seattle
Director: Stuart Townsend
Writer: Stuart Townsend
Stars: André Benjamin, Jennifer Carpenter, Isaach De Bankolé
Filem Rilis: 2008

GREEN ROOM, The Review



“Green Room” adalah bingkisan berisi semangat musik punk dari sutradara Jeremy Saulnier. Dan juga, ini adalah film yang menggambarkan brutalitas kaum skinhead (semua anggotanya berkepala plontos) yang selalu didentikkan dengan kebangkitan Nazi. Banyak orang menyebutnya sebagai “Neo-Nazi.”

Skinhead adalah sub-kultur yang pertama kali lahir di Inggris di era tahun 60-an. Terdiri dari kaum kelas menengah hingga atas, mereka adalah komunitas yang memiliki gaya hidup dan pemikiran tersendiri. Banyak beranggotakan para pekerja kasar, seringnya mereka dipandang berperangai keras. Tidak heran mereka kemudian sering diasosiakan dengan Nazi (padahal gak semua skinhead itu Nazi atau Nasionalis - red).

Jeremy Saulnier memakai pandangan masyarakat tersebut dalam “Green Room.” Ia juga menampilkan bagaimana perpaduan antara skinhead dengan Neo-Nazi menghasilkan kekerasan amat liar. Tentu di sini kita akan melihatnya dalam wujud sebuah hiburan.

Sub-kultur skinhead memang dekat dengan aliran musik punk. Namun tidak menutup kemungkinan para penganutnya memilih aliran musik yang lebih bervariasi. Untuk film ini, Saulnier menggunakan sebuah bandpunk sebagai media penuturannya. Terdengar cukup menarik sepertinya.

Band punk ini terdiri dari empat anggota, Pat (Anton Yelchin), Sam (Alia Shawkat), Reece (Joe Cole), dan sang vokalis Tiger (Callum Turner). Mereka mengadakan promo melalui sebuah radio lokal, yang kemudian menuntunnya ke sebuah klub. Bukan sebuah klub biasa, rupanya. Berlokasi di tengah hutan terpencil di kawasan Oregon.


Selepas menampilkan performa, Pat kembali ke green room untuk mengambil ponsel milik Sam. Gila! Pat melihat seorang gadis tewas dengan tikaman pisau di kepalanya. Berusaha lari untuk menelepon polisi, Pat berhasil dihentikan si tukang pukul. Masalah besar tengah menimpa para pemuda ini.

Mereka kemudian ditawan di dalam green room itu. Bersama dengan mayat si gadis dan teman wanitanya, Amber (Imogen Poots). Mereka tak bisa keluar begitu saja. Tukang pukul yang lebih besar dan garang, menghadang di depan pintu. Dia menjaga Pat dan lainnya untuk tidak membeberkan pada polisi. 

Sang pemilik klub, Darcy (Patrick Stewart), datang. Ia muncul dengan wajah penuh kemarahan dan kekhawatiran. Dia tak ingin polisi ikut campur urusan ini. Tentu ini mengindikasikan ada sesuatu yang besar di baliknya. Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar pembunuhan seorang gadis.

Perlu diketahui sebelumnya jika Darcy adalah pemimpin dari Neo-Nazi. Diperankan dengan sangat mengagumkan oleh Patrick Stewart, ia jauh dari kesan akan peran-perannya selama ini. Kejam, berdarah dingin, dan mengintimidasi. Lagipula Patrick Stewart adalah aktor Inggris, pilihan tepat sebagai karakterskinhead.

“Green Room” cukup menjanjikan dalam menghadirkan adegan gore. Darah berceceran hingga daging terkoyak; semua yang Anda butuhkan sebagai penggilanya ada di sini. Tapi sayangnya, “Green Room” lewat naskah yang juga ditulis Saulnier kurang mampu dalam mempertahankan intensitas keseruan. Ada momen dimana terasa menegangkan, di lain justru berakhir mengendor.


Salah satu penyebabnya menurut saya adalah pada kurang totalitasnya adegan gore. Untuk yang jarang menontonnya, “Green Room” mungkin sudah lebih dari cukup membuat ngilu. Sebaliknya, Anda yang mengaku penggila pasti masih merasa kekurangan. Tidak seperti apa yang saya dengar, “Green Room” kurang sadis walau sudah berusaha keras tampil brutal.

Di luar konteksnya, saya ingin mengatakan bahwa “Green Room” menjadi salah satu film terakhir yang dibintangi oleh Anton Yelchin. Paling tidak sejauh ini yang telah dirilis; sebelum “Star Trek Beyond” yang juga rilis di tahun ini. 

Kematian Anton Yelchin memang cukup mengagetkan saya, mengingat “Green Room” banyak didengungkan akhir-akhir ini. Dia banyak bermain dalam film-film independent, sedikit yang pernah saya tonton adalah “Odd Thomas” (2013) dan “Burying The Ex” (2014). Rest in Peace! (Iza Anwar)


GREEN ROOM
Sutradara: Jeremy Saulneir
Penulis: Jeremy Saulneir
Aktor: Patrick Stewart, Imogen Poots, Alia Shawkat
Tanggal Rilis: 15 April 2016



20 COVER ARTWORK PALING "SAKIT"


Gue gak mau banyak jelasin tentang artikel ini. Yang jelas ini juga bagian dari sebuah karya atau kalo mau disebut lebih mulia lagi iya deh, ini semua adalah bagian dari karya seni. Walaupun gue sendiri gak ngerti karya seni yang baik tuh kaya gimana hehe. Gue cuma kagum sama apresiasi mereka dan konsep mereka menciptakan ini semua, menciptakan sesuatu yang gak banyak dipikirin orang hehe. (nulis apa sih nih gue?? hhe) ...

Diluar 20 gambar ini, mungkin ada lagi yang lebih sadis atau lebih sakit, tapi ya itu urusan kalian deh ah ... siapa tau setelah ini kalian mau koleksi gambar-gambar yang lebih "sakit" hehe ... Nyok ah nih 20 cover artwork paling sakit yang pernah gue liat


20. BIG MASO MOM
Band: Meat Knife
(appears on 4 Way Grind Split with New York Against The Belzebu, Depression, Intestinal Infection)
Released: 2003
Label: Noise Variation (Celle, Niedersachsen, Germany)
Format: CD


19. V/A RUSSIAN MANIAXXX
Band: Abnormal, Cryptic Vomit, Haemor Drench, Morrah
Released: September 03, 2004
Label: Pyrolagnia (Saint-Petersburg, Saint-Petersburg, Russian Federation)
Format: CD


18. MOLESTING THE DECAPITATED
Band: Devourment
Genre: Slamming / Brutal Death
Origin: Dallas, TX, United States
Released: July, 1999
Label: United Guttural (Atlanta, GA, United States)
Format: CD


17. ANALBLASTING RUBBERPLUG
Band: Scumfuck
Genre: Goregrind
Origin: Germany
Released: 2007
Label: Half-Life (East Los Angeles, CA, United States)
Format: CD


16. ALMOST HUMAN
Band: Cripple Bastards
Genre: Grindcore / Noisegrind
Origin: Asti, Piemonte, Italy
Released: 2001
Label: Obscene Production (Lázně Bohdaneč, Czech Republic )
Format: CD


15. AROMATICA GERMENEXCITACION EN ORGIAS DE VISCOSA Y AMARGA PUTREFACION

Band: Paracoccidioidomicosisproctitissarcomucosis
Genre: Goregrind / Noisegrind
Origin: San Juan del Rio, Queretaro, Mexico
Released: 2007
Label: American Line Prod. (Distrito Federal, Mexico)
Format: CD


14. HYMNS OF INDIGESTIBLE SUPPURATION
Band: Last Days Of Humanity
Genre: Goregrind
Origin: Noord-Brabant, Netherlands
Released: 2000
Label: Bones Brigade (Hesdin, Nord-Pas-de-Calais, France)
Format: CD


13. SCAT AFICIONADOS
Band: Stoma
Genre: Goregrind
Origin: Herenveen, Netherlands
Released: 2005
Label: Bizarre Leprous (Lanškroun, Pardubický kraj, Czech Republic)
Format: CD


12. LYMPHAENECTOMY FOR CARCINOMA OF THE ESOPHAGUS AND GASTROESOPHAGEAL JUNCTION
Band: Hipermenorrea
Genre: Goregrind
Origin: Michoacán, Mexico
Released: October, 2007
Label: Alarma (Ciudad de México, Distrito Federal, Mexico)
Format: CD


11. BEASTIAL NECROPHILIA
Band: Cresspool Of Vermin
Genre: Brutal Deathgrind
Origin: Gastonia, NC, United States
Released: November 20, 2008
Label: Sevared (Rochester, NY, United States)
Format: CD


10. EROTIC DIARRHEA FANTASY
Band: Torsofuck
Genre: Slamming/Brutal Death
Origin: Harjavalta, Satakunta, Finland
Released: April 30, 2004
Label: Goregiastic (Elmhurst, NY, United States)
Format: CD


9. PUTRESCENT CLITORAL FERMENTATION
Band: Vulvectomy
Genre: Brutal Death
Origin: Bari, Puglia, Italy
Released: December 27, 2007
Label: Amputated Vein (Osaka, Japan)
Format: CD


8. BLOODY FACE
Band: Hybrid Viscery
Genre: Grindcore
Origin: Gozée, Hainaut, Belgium
Released: 2001, 2003 (repress)
Label: Coyote Recs. (Moscow, Russia)
Format: CD


7. S.P.L.A.T.T.E.R.

Band: Flesh Grinder
Genre: Deathgrind
Origin: Gozée, Hainaut, Belgium
Released: March 1999
Label: Lofty Storm. (Florianopolis, Brazil)
Format: CD


6. TE LO PARTY GORE
Band: Cirugia Macabra
Genre: Brutal Death / Goregrind
Origin: Chile
Released: 2007
Label: Hellrecords (Chile)
Format: CD


5. REAL SHITISFACTION
Band: Letrina
Genre: Goregrind
Origin: El Savador
Released: September 5, 2009
Label: -
Format: Digital File


4. COPROMO
Band: Moñigo
Genre: Goregrind
Origin: Madrid, Comunidad de Madrid, Spain
Released: January 01, 2006
Label: -
Format: Digital File


3. FILTH
Band: Waco Jesus
Genre: Brutal Death
Origin: Chicago, IL, United States
Released: 2003
Label: Morbid Records (Cottbus, Brandenburg, Germany)
Format: CD


2. DIARREIA BRUTAL

Band: Furúnculo Anal / God Pussy
Genre: Goregrind
Origin: Brazil
Released: 2009
Label: -
Format: Digital File

1. FILTH
Band: Waco Jesus
Genre: Brutal Death
Origin: Chicago, IL, United States
Released: 1999
Label: United Guttural (Atlanta, GA, United States)
Format: CD

Ditulis oleh: Agum, tukang cupang aduan depan MI Assuada, Kampung Bero, Depok

NBR 028/2016 VA. YANG PENTING BERISIK!!#6


DARI REDAKSI

Yup ... udah samapai ke edisi 6, berarti kami udah ngikutin sekitar 240 band dan 240 lagu selama kompilasi ini berjalan dari edisi satu ditahun 2012 silam. Jujur, gak semua band yang terlibat di edisi ini berasal dari email dengan subjek YPB#6, ada sebagian yang nginbox dipage kami coba promosiin lagunya terus kami tampung dan kami tuangin disini. Isinyapun gak kalah variatif dari sisi genre, serta beberapa band berasal dari luar Indonesia. Tapi sayang dan amat sangat disayangkan ada beberapa band yang gak lengkap ngirim alamat kontaknya, ini disayangkan karena siapa tau ada band atau label atau individu yang tertarik dengan karyanya tapi gak tau mau hubungi kemana.

Oke deh, sekarang kita simak nyok kompilasi ini ...

YANG PENTING BERISIK!!!#6

Released: August 2016
Label: Noiseblast Recording
Genre: HC/Punk/Thrash/Crust/Grind/Noise/Death
Country: Indonesia, Ecuador, Belarusia, Rusia, Ukraine

Tracklist:
01 SOONCRAZY - Naskleng I'm Fly
02 BEDA - Добро Пожаловать В Ад!!! (Welcome to Hell!!!)
03 DUMB ASS - No Skill No Problem
04 DYSPHONIC - Dajjal
05 BAJINGAN - Kill Your Fear
06 ONE HAND FIGHT Feat Emcee DK - Meretas Batas
07 OVER GRIND - Melawan Asap
08 KEJAM - Illumimati
09 GRAVITSAPA - Laughter As Defence Reaction
10 DISPATER - H.A.M (Hidup Atau Mati)
11 xMxGxEx - Vaginosis Granuloma Inguinale
12 ZVZTER NGESOT - Jayalah Dvsvn Kenongo
13 H2C - Kelabilan Kaum Hawa
14 BERSITEGANG - Selamat Malam Kehancuran-mp3
15 TOTAL GALAU - Matikan TV
16 BENYAH LATIG - Sosialita Gildan (Gila Dandan)
17 SINYAL X RUSAK - Kedok Imitasi
18 GRIGORA - Awas Bencana
19 WAKK THUU - Fuck Off Nu Core
20 BRAIN SYSTEM FAILS - Save Our Forest
21 ANGST DISORDER - Parar El Odio
22 DEATH OF AUTHORITY - Carcass For Cash
23 PADAGRA - русский крокодил дезоморфин
24 MUKAKURDY - Belati
25 FIBROSIS MORAL - Cuando Comemos Los Ojos
26 GRINDDISASTER - Indonesia Belum Merdeka
27 TSAMCORE - Simbiosis Hancurisme
28 BARRICADE- - Mutak (Muka Retak)
29 MULTATULI - Caci Maki Basi
30 HUNUS - Destruksi Imaji, Rekonstruksi Dogma
31 SAPOTARING - Tembak Mati
32 GARISMIRING - Ratapan Anak Tiri
33 RAWSUCK - Your Face Like A Monkey
34 T.W.B - Omong kosong
35 INHUMAN INFECTION - Fuck Trendy
36 SYNDROM SPILIS - Terjerat Siksa Birahi
37 DEPO SAMPAH - Menolak Lupa (Munir)
38 RKK - Ealah Tiwas Mudo Gak Sido Kelon
39 MINIMUM VALUE - Work Pressure
40 NOESTALGYA - Sisi Negatif Manusia

BAND INFO

ANGST DISORDER (Depok, ID)

BAJINGAN (Gresik, ID)

BARRICADE (Bogor, ID)

BEDA (Vitebsk, Belarusia)

BENYAH LATIG (Gianyar, ID)

BERSITEGANG (???, ID)
????

BRAIN SYSTEM FAILS (Citayam, ID)

DEATH OF AUTHORITY (Jakarta, ID)

DEPO SAMPAH (Surabaya, ID)
IG: @deposampahofficial

DISPATER (Jakarta, ID)

DUMB ASS (Semarang, ID)

DYSPHONIC (Tabalong, ID)

FIBROSIS MORAL (Bogota, Colombia)

GARISMIRING (Kolaka, ID)

GRAVITSAPA (Lviv, Ukraine)

GRIGORA (Malang, ID)

GRINDDISASTER (Jakarta, ID)

H2C (Malang, ID)

HUNUS (Depok, ID)

INHUMAN INFECTION (Surabaya, ID)

KEJAM (Cikarang, ID)

MINIMUM VALUE (Jember, ID)

MUKAKURDY (Jakarta, ID)

MULTATULI (Makasar, ID)
?????

NOESTALGYA (Pekalongan, ID)

ONE HAND FIGHT (Purwakarta, ID)

OVER GRIND (Batang, ID)
????

PADAGRA (Rostov, Rusia)

RAIMUKOYOKONTOLKU (Surabaya, ID)

RAWSUCK (Kediri, ID)

SAPOTARING (Karawang, ID)

SINYALxRUSAK (Bekasi, ID)

SOONCRAZY (Gianyar, ID)

SYNDROM SPILIS (Barabai, ID)

TOTAL GALAU (Banda Aceh, ID)

TSAMCORE (Jakarta, ID)

T.W.B (Bojong Gede, ID)

WAKK THUU (Kathmandu, Nepal)

xMxGxEx (Depok, ID)

ZVZTER NGESOT (???, ID)
???

For lyrics, info, split, compilation, friendship and joke .... please contact the bands.
MAKE A FRIENDSHIP!! BUILT YOUR OWN NETWORKS!!
THANKS FOR JOIN US! THANKS FOR SHARING! THANKS FOR VISIT! AND THANKS FOR DOWNLOAD!!

PENUTUP

GAK MAKE KOLEKTIF-KOLEKTIFAN, GAK MAKE LOYALTI-LOYALTIAN,
GAK PERLU BIAYA PRODUKSI GEDE, GAK MAKE BANDROL HARGA,
GAK MAKE TARGET PENJUALAN, GAK MAKE ITUNG-ITUNGAN UNTUNG RUGI!!!

Yang mau ikutan, masih belom putus nih buat edisi yang ke-7 ... silahkan kirim demo (Mp3, wav), Profil band.txt ((Bio, Discog, kontak. logo, photo),  masukin dalam satu folder dan di zip/rar kirim ke: noiseblast.media@gmail.com ...

GAK ADA BATAS WAKTU!!! JADI, GAK USAH MAKSAIN JUGA huehuehueeeee ....

For the next edition of this compilation or need a label for Free Download release, just send your demo (mp3, wav), band profile.txt (Bio, Discog, contact. logo, pictures) in one folder (zip/rar) to:
noiseblast.media@gmail.com

DOWNLOAD HERE!



 
Bagikan